Wacana tak Pernah Henti: Benarkah Jesus Menikah?
Jakarta –Lontaran menyentak publik yang mulai digulirkan pada 1982 lalu oleh Michael Baigent, Richard Leigh dan Henry Lincoln dalam buku mereka Holy Blood and the Holy Grail, itu tampaknya tak terbendung. Pada 2003 Dan Brown kembali memprovokasi publik via Da Vinci Code. Tahun ini, laman maya CNN kembali mengangkat sebuah pertanyaan yang bagi pemeluk taat Kristiani akan terdengar nyinyir: benarkah Jesus tak pernah menikah hingga saat-saat terakhirnya, atau justru menikah, beristri dan barangkali memiliki anak?
Pada April 2014 lalu, Joel S Baden dan Candida R Moss menulis khusus untuk laman CNN. Baden dan Moss bukan orang-orang awam. Baden adalah profesor bidang Perjanjian Lama di Yale Divinity School, sementara Moss adalah profesor bidang Perjanjian Baru di University of Notre Dame. Meski keduanya meragukan kebenarannya, upaya Baden dan Moss mengangkat kembali isu Jesus beristri, saat itu banyak menarik perhatian.
Apa yang diungkap Baden dan Moss itu mengingatkan kembali publik pada 2012 lalu, saat Karen King, seorang profesor dari Harvard University mengumumkan temuan selembar papirus kepada publik. Isinya papirus dari era awal Kristen itu merujuk pada keberadaan istri Jesus; sesuatu yang bertolak belakang dengan kepercayaan Kristiani yang menyatakan Jesus tak pernah menikah. Sayangnya, King menerima manuskrip itu dari seseorang yang tak jelas: anonim.
Di 2012 itu pernyataan King dinilai hanya mencari sensasi setelah demam karya Dan Brown, ‘The Da Vinci Code’. Kesan itu kuat, meski para peneliti di AS saat itu mengungkapkan bahwa potongan papirus yang menyebut keberadaan istri Jesus itu asli. Kertas papirus yang segera ditolak Vatikan dan disebut palsu itu berusia sekitar seribu tahun. Sementara, setelah diteliti sekolah teologi Harvard Divinity School, disebutkan bahwa potongan itu berasal dari sekitar abad keenam dan kesembilan.
Tes-tes karbon menunjukkan, papirus itu berasal dari abad kedelapan Mesir. Tes-tes lain menemukan komposisi kimia tinta konsisten dengan tinta berbasis karbon yang digunakan orang Mesir kuno. Pencitraan mikroskopis pun mengungkapkan tidak adanya kandungan tinta modern.
Persoalannya, potongan papirus yang disebut ‘Gospel of Jesus's Wife’ itu ditulis berabad-abad setelah Yesus meninggal. Belum lagi ada kesalahan tata bahasa di papirus itu yang menunjukkan penulisnya hanya mengenyam pendidikan setingkat sekolah dasar. Satu hal lain, manuskrip itu anonim, tak jelas siapa penulisnya.
Belum lagi potongan itu seolah berkeras untuk mendeskripsikan seseorang bernama Maria, yang diakui sangat berharga dan pantas menjadi ‘murid’ Jesus.
Tetapi wacana Jesus beristri bukanlah diskursus baru. Sejarawan dan pakar teologi Injil, Prof Dr Barbara Theiring, yang mendalami Naskah Laut Mati yaitu naskah Injil tertua yang ditemukan di Laut Mati, juga menegaskan bahwa Jesus menikah. Bahkan berdasarkan bukunya ‘Jesus The Man’, bukan hanya sekali.
Untuk memperkuat argumentasinya, dalam ‘Jesus The Man’ Theiring mengutip Injil Markus 14 :3, “Datanglah seorang membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkan minyak itu ke atas kepala Jesus.” Ia juga mengutip Injil Lukas 7:37-38, yang menyatakan,”Maria Magdalena membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Jesus dekat kakinya, lalu membasahi kakinya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakinya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.”
Theiringmengatakan, upacara seorang wanita membawa minyak wangi, kemudian menuangkan ke rambutnya untuk mengusapkan rambutnya itu kepada kaki laki-laki serta mencium kaki laki-laki, merupakan prosesi pernikahan bangsawan Yahudi.
Bila benar yang menikah adalah Jesus, kemungkinannya itu terjadi manakala Jesus beruysia 23 tahun. Mengapa 23 tahun? Saat itu semua sekte Yahudi memegang adat, seorang pria harus menikah pada usia ini. Bila tidak, ia tak berpeluang untuk diangkat menjadi rabi.
Dalam bukunya yang lain, ‘Jesus and the Riddle of the Dead Sea Scroll’, yang terbit pada 1992 lalu, Theiring menjelaskan, kemungkinan perkawinan Jesus dengan Maria Magdalena itu terjadi pada Jumat, 22 September tahun 30 M. “Tempatnya di Ain Feshkah,” tulis Theiring. Palestina saat ini.
Benarkah? Wallahu ‘alam.() inilah.com/ syabab indonesia

0 komentar:
Posting Komentar